Sabtu, 23 Februari 2013

TEKNIK PENULISAN BERITA DAN BAHASA JURNALISTIK



Kata berita sangat dekat di telinga kita. Sebenarnya apa sih yang di maksud dengan berita? Bagaimana dengan tata cara penulisannya? Lalu sebenarnya apakah ada jenis-jenis berita?
Pengertian berita
Pengertian klasik: berita adalah sesuatu hal baru atau yang lain dari yang lain. Misalnya "Soeharto mantan presiden RI" (bukan berita), tetapi "Soeharto mati dibunuh" (itu berita).
Pengertian modern: berita adalah laporan tentang kejadian yang aktual dan menarik. Dari pengertian ini ada tiga unsur dalam suatu berita yaitu: ada peristiwa yang aktual, peristiwa tersebut menarik dan ada yang melaporkan.
Setelah mengetahui pengertian berita, lalu apa sebenarnya yang membuat suatu berita menjadi layak untuk diberitakan?
Significant/Penting. Kasus korupsi misalnya yang sekarang marak terjadi. Ini menjadi penting karena yang dikorupsi adalah uang rakyat. Maka layak jadi berita. Ini juga relatif tergantung dari khalayak pembaca yang dituju. Isu Sultan Hamengkubuwono X menjadi calon presiden RI tentu penting untuk dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, tetapi kurang penting dimuat di Majalah Hai, karena khalayak pembacanya berbeda.

  1. Aktual /Baru terjadi. Peristiwa yang baru saja terjadi, seperti  gempa di Palembang tentu akan menjadi berita yang lebih penting jika dibandingkan dengan berita tsunami di Aceh yang telah lama berlalu.
2.       Prominance/Keterkenalan. Saya mengunjungi korban gempa di Palembang tidak layak menjadi berita, akan lain jika kejadiannya menjadi Presiden yang datang mengunungi korban gempa di Palembang. Kejadian yang ke dua inilah yang pantas dibuat menjadi berita.
3.       Proximity/Kedekatan. Terjadi pembunuhan berantai di Jerman oleh seorang tukang sampah masih kalah nilai beritannya dibanding dengan pembunuhan yang dilakukan oleh Ryan di Jombang karena lebih dekat dengan kita. Kedekatan itu bisa kedekatan georafis ataupun kedekatan emosional.
  1. Magnitude/Besaran. Kita melihat dampak statistik dari suatu peristiwa. Terjadi kecelakaan kereta api yang menewaskan 23 penumpang akan lebih dilihat oleh pembaca ketimbang kecelakaan motor dengan korban meninggal 1 orang.
  2. Human Interest. Unsur kemanusiaannya dapat dilihat dari orang biasa dalam situasi luar biasa atau orang besar dalam situasi biasa.
 Setelah itu, kemudian ada unsur-unsur yang penting dalam membuat suatu berita. Kelima hal ini adalah 5 W+1 H
Who, What, Where, When, Why + How
Siapa, Apa, Di mana, Kapan, Mengapa+ Bagaimana

Dalam dunia jurnalistik dikenal juga jenis-jenis tulisan  jurnalistik antara lain: Straight news dan soft news. Tulisan-tulisan ini menyesuaikan dengan kebutuhan tulisan yang akan dibuat.
Straight News : Berita yang lugas, singkat, langsung ke pokok persoalan dan fakta-faktanya. Biasanya harus memenuhi unsur 5 W + 1 H secara ketat dan harus cepat-cepat dimuat, karena terlambat sedikit bisa basi. Istilah Hard News lebih mengacu ke isi beritanya, sedangkan istilah Straight News lebih mengacu ke cara penulisannya (struktur penulisan).
Soft News : Berita yang dari segi struktur penulisan relatif lebih luwes, dan dari segi isi tidak terlalu berat. Soft News umumnya tidak terlalu lugas, tidak kaku, atau ketat, khususnya dalam soal waktunya.
Selian tulisan-tulisan jurnalistik, juga terdapat jenis-jenis penulisan jurnaistik antara lain:
1.       Features : Berita yang mengkisahkan suatu peristiwa, tahan waktu, menarik, strukturnya tidak kaku, dan biasanya mengangkat aspek kemanusiaan. Panjang tulisan Features bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik. Misalnya, Features tentang kehidupan anak-anak tuna grahita di Karangpoh.
2.       Struktur Penulisan Berita :
Straight News biasanya ditulis dalam bentuk struktur "piramida terbalik." Hal yang terpenting ditulis paling awal, dan hal yang paling tidak penting ditulis belakangan.
                   5w+1H                                                  Penting
                                                                                  Kurang penting
                                                                                  Semakin tidak penting

Bahasa Jurnalistik
Ketika kita menulis berita, kita juga perlu memperhalikan bagaimana bahasa yang digunakan dalam penulisan berita. Hal ini agar berita yang kita tulis tidak membosankan bagi pembaca. Lalu bagaimana bahasa yang sebaiknya digunakan dalam menulis berita?
Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian surat kabar dan majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa jurnalistik  itu harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas. Sifat-sifat itu harus dimiliki oleh bahasa pers, bahasa jurnalistik, mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Oleh karena itu beberapa ciri yang harus dimiliki bahasa jurnalistik di antaranya:
1.       Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.
2.       Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Semua yang diperlukan pembaca sudah tertampung didalamnya. Menerapkan prinsip 5 w+1h, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.
3.       Sederhana, artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)
4.       Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .
5.       Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.
6.       Jelas, artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Struktur kalimatnya tidak menimbulkan penyimpangan/pengertian makna yang berbeda, menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, seyogyanya bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif. Namun seringkali kita masih menjumpai judul berita: Tim Ferrari Berhasil Mengatasi Rally Neraka Paris-Dakar. Jago Merah Melahap Mall Termewah di Kawasan Jakarta. Polisi Mengamankan Oknum Pemerkosa dari Penghakiman Massa.    




2 komentar:

 

Blogger news

Blogroll

About