Rabu, 20 Februari 2013

TEKNIK REPORTASE


TEKNIK REPORTASE MEMBUAT BERITA


Dalam dunia jurnalistik, reportase merupakan proses pengumpulan data dan fakta suatu peristiwa yang digunakan untuk penulisan karya jurnalistik atau berita.

Setiap peristiwa mengandung 5W + 1H
a. What (apa) : Apa peristiwa yang terjadi?
b. Who (siapa) : Siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu?
c. When (kapan) : Kapan peristiwa itu terjadi?
d. Where (di mana) : Di mana peristiwa itu terjadi?
e. Why (mengapa) : Mengapa peristiwa itu terjadi?
f. How (bagaimana) : Bagaimana peristiwa itu terjadi?

5W + 1H merupakan pertanyaan dasar yang harus terjawab dalam sebuah reportase. Data dan fakta dapat dikumpulkan sebanyak-banyaknya dengan mengembangkan 5W + 1H tersebut.

Dalam melakukan reportase, ada etika yang harus ditaati oleh reporter.
1. Cover both side, meliput semua pihak yang terkait, tanpa membedakan.
2. Fairness, tidak memanipulasi fakta.
3. Balance, keseimbangan dalam pencarian data dan pemberitaan.
4. Mematuhi Kode etik Jurnalistik
5. Tidak mempublikasikan identitas atau pernyataan nara sumber jika nara sumber meminta off the record.


Teknik pengumpulan data dan fakta dapat dilakukan dengan 3 cara:

1. Wawancara
Wawancara merupakan bentuk reportase dengan cara mengumpulkan data berupa pendapat, pandangan, dan pengamatan seseorang tentang suatu peristiwa.
Dalam melakukan reportase, reporter harus pintar memilah-milah nara sumber yang nantinya akan melengkapi bahan penulisan karya junalistik. Nara sumber dapat dipilah menjadi nara sumber primer dan nara sumber skunder. Nara sumber primer merupakan nara sumber yang memegang peran penting dalam sebuah peristiwa, atau yang paling tahu tentang sebuah peristiwa. Karena peran pentingnya tersebut, maka nara sumber primer harus dapat di wawancara. Nara sumber sekunder berfungsi untuk melengkapi dan mendukung penulisan karya jurnalistik atau berita.

Ketika melakukan wawancara ada tiga hal yang tidak boleh dilupakan:
a. Identitas dan atribut nara sumber
b. Pendapat nara sumber terhadap peristiwa
c. Kesan nara sumber terhadap peristiwa


Beberapa persiapan yang dilakukan agar wawancara berjalan lancar dan efektif antara lain:
1. Menguasai tema yang akan ditanyakan kepada nara sumber. Jika pengetahuan kita
sedikit tentang tema yang dimaksud, kesulitan akan timbul. Selain kita tidak
bisa mengembangkan pertanyaan, juga akan malu kepada nara sumber karena bisa
saja pertanyaan itu melenceng.
2. Siapkan pertanyaan atau TOR (Term of refference). Ini penting agar tidak ada permasalahan yang luput ditanyakan pada nara sumber.
3. Bawa alat perekam. Selain berfungsi untuk memudahkan reporter menulis hasil wawancara, keberadaan alat perekam bisa menjadi bukti apabila sewaktu-waktu nara sumber mengelak dan protes terhadap berita yang ditulis.
4. Menghargai nara sumber dan membuat janjian. Janjian penting karena ada beberapa nara sumber yang enggan ditemui langsung. Ingat, menjaga hubungan baik dengan nara sumber sangat penting untuk kemudian hari. Banyak nara sumber yang kecewa dan enggan bertemu reporter tertentu.

2. Observasi atau pengamatan
Observasi atau pengamatan merupakan teknik reportase dengan cara mengamati baik setting maupun alur sebuah peristiwa di lapangan.

Dengan terjun langsung ke lapangan, reporter akan merasakan langsung peristiwa yang terjadi dilapangan sehingga ia bisa menyampaikan informasi yang valid kepada pembaca.

3. Riset dokumentasi

Riset dokumentasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dan fakta dengan riset melalui buku, internet, dan sumber-sumber dokumentasi data lainnya.






0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About